Kutai Kartanegara – Desa Perangat Baru, Kabupaten Kutai Kartanegara, terus menguatkan posisinya sebagai Kampung Kopi Luwak. Tidak hanya karena kualitas kopi liberika yang langka, tetapi juga berkat dukungan pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan petani.
Kepala Desa Perangat Baru, Fitriati, menyampaikan bahwa Kabupaten Kukar telah memberikan berbagai fasilitas bagi kelompok tani kopi di desanya.
“Fasilitas yang diberikan Pemerintah Kukar seperti rumah produksi, lantai jemur kopi, sarana prasarana, dan pupuk bagi para petani,” ucap Fitriati.
Fasilitas ini membuat kelompok tani mampu menjaga kualitas produksi kopi liberika, yang hanya ditanam di tiga titik di Indonesia, salah satunya di Desa Perangat Baru.
“Ya kami berharap supaya kelompok tani ini bisa terus berkembang dan lebih dikenal oleh khalayak luas,” tambahnya.
Saat ini, tercatat ada 34 petani kopi yang aktif mengembangkan tanaman liberika di desa tersebut. Jenis kopi ini memerlukan waktu panen sekitar dua tahun, dengan hasil 700 gram hingga lebih dari satu kilogram per hektare.
Keunikan itu membuat Kopi Luwak asal Perangat Baru diminati wisatawan dan bahkan masuk ke pasar premium. Produk ini dijual hingga Rp5 juta per kilogram, dan telah didistribusikan ke berbagai hotel serta lokasi wisata, termasuk di Bali.
“Sudah MoU dengan berbagai hotel dan lokasi wisata seperti di Bali,” terangnya.
Kopi Luwak dari Desa Perangat Baru pun kini menjadi daya tarik wisata tersendiri, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. (Adv)
